Jumat, 17 Januari 2014

Memimpikan Cinta

Fanfiction ini diambil dari novel Refrain dan Melbourne: Rewind karya Winna Efendi.




Sudah enam tahun sejak aku meninggalkan Indonesia untuk kuliah di Melbourne. Tak hanya meninggalkan Indonesia, aku juga meninggalkan orang yang plaing kusayang di dunia ini. Kak Danny. Ya, ketika aku tahu bahwa Nata menyukai Niki, aku sadar kalau aku tidak akan punya kesempatan jika bersaing dengan Niki. Aku tahu Niki sendiri menyukai Nata, bahkan mungkin sebelum dia sendiri menyadarinya. Perlahan aku mencoba menyerah pada rasa itu dan mencari tambatan hati lain. Lalu ia muncul. Kak Danny muncul dan membantuku untuk beralih dari Nata.
             Selama beberapa waktu aku dan Kak Danny mulai dekat. Deket banget, kalau kata Niki, seperti yang sering dia ucapkan dengan nada meledek dan membuat pipiku langsung merah. Aku akui kami memang sangat dekat, meskipun tidak sedekat Nata dan Niki. Sekalipun kami dekat, kami tak pernah menjalin suatu hubungan. Status kami tak pernah lebih dari teman karena sebelum kami melangkah maju, Kak Danny sudah mengakhirinya.
            "Aku punya perasaan sama kamu, Na, tapi aku nggak mau nantinya aku sakit lagi karena kamu punya cita-cita. Lebih baik kejar mimpi kamu dulu," kata Kak Danny waktu itu.
            Aku ingat semua yang Kak Danny ucapkan kata per kata. Aku ingat intonasinya, raut wajahnya, bahkan kehangatan yang diberikan saat dia mengucapkannya sambil menggenggam tanganku. Dan yang paling kuingat? Bagaimana dua kalimat itu menghancurkanku. Bagaimana dua kalimat itu membuatku merasakan kembali rasanya tidak diinginkan kehadirannya oleh orang yang kau sayangi setengah mati.
            Sejak saat itu kami tak pernah bertemu lagi. Sekalipun Kak Danny menawarkan untuk tetap menjadi teman, aku menolaknya. Kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya benar-benar menghantamku, meninggalkan sejumlah rasa sedih dan kecewa. Aneh bagaimana jiwaku seakan-akan dihisap oleh Dementor dalam film Harry Potter hanya dengan dua kalimat itu. Konyol, kan? Begitu juga dengan Kak Danny. Menurutku dia konyol. Mengapa dia menyuruhku untuk memilih antara cinta dan mimpi? Bukankah manusia berhak untuk mendapatkan keduanya? Aku benar-benar tak mengerti saat itu.
            Kepergianku ke Melbourne merupakan keputusan terberat sekaligus keputusan terbaik yang pernah kubuat. Aku merenungkan banyak hal di sana. Aku merenungkan alasan mengapa Kak Danny melakukan itu semua. Bodohnya, aku baru sadar bahwa dia melakukan itu karena dia tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya karena hal yang sama. Harusnya aku ingat bahwa cinta pertama Kak Danny juga berakhir karena mimpi. Tapi tetap saja masih ada keraguan dalam diriku. Keraguan bahwa Kak Danny memang ingin aku pergi dari hidupnya.
            Keraguan dalam diriku membuahkan banyak pertanyaan. Haruskah aku kembali lagi nanti? Kalaupun aku kembali, apakah perasaan Kak Danny terhadapku akan sama dengan perasaanku terhadapnya? Atau akankah rasa cinta ini bertepuk sebelah tangan? Haruskah aku tinggal di sini saja, meraih mimpiku?
            Semua pertanyaan itu kutanyakan jutaan kali pada diriku sendiri selama di Melbourne. Untungnya ada sepupuku, Kak Laura, yang membantu menjawab semua itu. Aku tinggal bersamanya di Melbourne dan dia sangat mengerti apa yang ku alami. Dia pernah mengalami hal serupa denganku, yaitu persoalan cinta karena mimpi. Dulu Kak Laura putus dengan pacarnya, Max karena Max harus pergi ke luar negeri untuk mengejar mimpinya. Tapi akhirnya mereka kembali bersama setelah lima tahun.
            "Kadang mimpi seseorang adalah menemukan cinta. Mungkin sebenarnya itu mimpi kamu, Na. Dan kalau kamu memang memimpikan cinta, kejarlah."
            Itulah kata-kata Kak Laura yang paling membekas bagiku. Kata-kata itu yang membuatku pulang. Kata-kata itu yang membuatku kembali ke Indonesia, mengejar mimpiku yang ternyata selama ini ada di hati.

***

Enam tahun yang panjang membawaku ke sini, ke rumah ini lagi. Rumah yang dulu sering aku datangi untuk belajar sekaligus bermain bersama Niki dan Nata. Rumah yang tetap sering kudatangi setelah kepergian Nata ke New York untuk sekadar bertemu dengan Kak Danny. Rumah yang menyimpan banyak kenangan, mulai dari yang terbaik sampai yang terburuk.
            Aku terus berkata dalam hatiku bahwa aku sudah siap. Aku sudah siap mengejar mimpiku. Tapi sesaat setelah aku memencet bel, nyaliku menciut. Tekadku tak lagi bulat. Sekarang aku hanya berharap bahwa tidak ada orang di rumah, atau setidaknya semoga Kak Danny tidak di rumah.
            Sialnya, harapanku tidak terkabul karena aku mendengar ada langkah kaki seseorang yang sedang berlari menuju pintu. Aku langsung membalikkan badan, berharap siapapun yang sedang menuju ke sini tidak mengenaliku. Tapi.....
            "ANNA!!!" teriak seseorang di belakangku.
            Aku masih ingat dengan suara itu. Pasti milik the one and only, Niki. Aku berbalik dengan tawa kecil menghiasi wajahku.
            "Niki! Nice to meet you again," sapaku pada Niki.
            Niki langsung berlari menghampiriku dan memelukku.
            "Anna! Aku kangen banget sama kamu, Na! Enam tahun kamu di Melbourne dan enggak pernah pulang ke sini pas liburan. Kamu keterlaluan, Na," sembur Niki padaku dengan nada sewot ciri khasnya.
            Sebelum aku bisa membalas ucapan Niki, seseorang datang dari belakang Niki. Orang yang sempat singgah sebentar di hatiku tapi digantikan dengan cepat oleh kakaknya. Ya, Nata. Dia sedang melangkah menuju Niki dan aku.
            "Hai, Na. Udah lama banget lo enggak ke sini. Gue sama Niki kangen banget loh sama lo," kata Nata sambil memelukku, bergantian dengan Niki.
            "Masa sih kalian kangen sama aku? Bukannya kalian terlalu sibuk pacaran?" candaku pada mereka berdua.
            "Aaaah, Anna. Jangan bikin malu dong," ujar Niki yang sekarang pipinya memerah sambil tersenyum malu-malu, "masuk, yuk! Kamu harus cerita banyak sama kita."
            Kami bertiga masuk ke rumah Nata. Tapi beberapa detik kemudian langkahku terhenti karena aku mengingat sesuatu.
            "Nik, Nat, tunggu deh. Kak..... Kak Danny enggak ada di rumah, kan?"
            Langkah Niki dan Nata juga terhenti. Dalam beberapa detik hanya ada keheningan di antara kami sampai Nata buka suara.
            "Dia lagi pergi kok, Na. Tenang aja, lagi."
            Sebagian dari diriku merasa lega karena aku tak akan bertemu dengannya. Tapi entah mengapa aku juga merasa kecewa karena tidak bisa melepas rindu yang sudah kurasakan bertahun-tahun. I miss him that much, you know.

***

"So, Na, aku penasaran banget apa aja yang terjadi sama kamu selama enam tahun ini, tapi.... the most important thing first. Sebenernya apa sih yang terjadi sama kamu dan Kak Danny?"
            Niki langsung menyemprotku dengan topik yang super sensitif sesaat setelah kami berada di ruang tamu.
            "Kalian itu pasangan yang cocok banget, Na, dan aku stress berat waktu tahu kalian selesai..."
            "Nik!" sela Nata.
            "Aduh bentar dong, Nat. Gini, Na. Sebenernya aku udah gatel banget pengen kepo tapi Nata selalu ngelarang aku. Jadi aku udah nggak tahan lagi sekarang."
            Jujur, aku tak tahu harus menjawab apa.
            "Nik... aku.... aku cuma tahu kalau enam tahun lalu semuanya selesai. Kak Danny mau aku ngejar mimpi aku dan itulah yang aku lakuin. Sekarang aku pulang karena....."
            "Karena kamu masih sayang sama dia," kata Nata, menyelesaikan kalimatku dengan tepat.
            Aku hanya diam, tahu bahwa apa yang dikatakan Nata benar. Kurasa Nata dan Niki juga mengerti yang kumaksud dengan diam karena selanjutnya Niki memelukku lagi.
            "Aaaah....Na, kenapa kamu nggak pernah bilang? Harusnya kamu bilang dan biarin cupid satu ini menyelesaikan segalanya bagimu."
            "Nggak usah sok jadi cupid deh Nik dan biarin Anna dan Kak Danny beresin masalah mereka sendiri," kata Nata.
            "Oke, oke. Sinis banget deh, Nat."
            "Always, Nik, always."
            It's always funny to watch them fight. Niki dan Nata, maksudku. Mereka pasangan paling manis yang pernah kutemui. They complete each other. Dan yang terpenting adalah mereka bertahan lama sebagai pasangan.
            "Kalian lucu banget, ya. Nggak pernah berubah," kataku.
            "Kamu juga nggak berubah, Na," ujar seseorang di belakangku.
            Kata-kata itu membuatku terpaku. Bukan karena isinya, tapi karena diucapkan oleh seseorang yang benar-benar kuingat suaranya. Suara itu.... suara itu sempat mengisi hari-hariku enam tahun lalu.
            Aku segera menengok ke belakang dan menemukannya. Kak Danny. Rasanya hatiku seperti disetrum listrik saat melihatnya. Kemeja Polo yang pas di badan dan memperlihatkan ototnya. Celana jeans hitam yang aku tahu sering dia pakai. Dia persis seperti orang yang kusayangi setengah mati enam tahun lalu. He hasn't changed a bit.
            "Kayaknya lebih baik kalian ngobrol berdua aja deh. Ayo, Nik."
            Nata menarik tangan Niki yang aku yakin sebenarnya tidak mau pergi dari situ. Aku juga berharap mereka tidak meninggalkan aku dengan Kak Danny. Aku belum siap.
            Tanpa mengatakan apa-apa aku segera beranjak dari sofa yang tadinya kududuki. Aku hanya ingin pergi dari situ. Aku belum siap menghadapi semuanya. Sebelumnya kupikir aku siap tapi nyatanya aku belum siap.
            "I miss you, Na."
            Astaga. Seharusnya dia tidak mengatakan itu.
            "Aku... aku nggak nyangka kalau kamu bakal pergi selama itu."
            "Aku juga nggak nyangka kalau kakak bakal nyuruh aku ngejar mimpi aku enam tahun lalu. Aku juga nggak nyangka kalau aku akan kembali ke sini setelah tahu bahwa kakak udah nggak mau berhubungan sama aku. Aku juga nggak nyangka kalau aku masih sayang sama kakak setelah enam tahun berlalu. Aku juga nggak nyangka kalau bakal sesakit ini waktu ngeliat kakak lagi."
            Aku benar-benar kehabisan nafas saat itu. Dadaku rasanya sesak, dan air mataku mengalir begitu saja. Aku kehabisan energi dan langsung terduduk lemas setelah mengeluarkan kata-kata yang selama ini kupendam.
            "Sorry, Na. Aku nggak pernah bermaksud buat nyuruh kamu pergi. Aku..... Gosh! I love you, Na. Dari dulu sampai sekarang aku selalu sayang sama kamu. Aku tahu aku salah dengan nyuruh kamu buat milih antara mimpi dengan cinta, tapi...."
            "Tapi mimpi aku itu cinta, Kak. Hal yang aku impikan dari dulu adalah cinta. Sayangnya Kakak nggak pernah menyadari itu."
            Kak Danny hanya diam. Aku yakin dia sadar bahwa apa yang kukatakan itu benar.
            Aku berdiri dan melangkah keluar dari rumah. It's all over now. Mungkin mimpi ini tidak realistis. Mungkin mimpi ini terlalu tinggi untuk dicapai. Memimpikan cinta mungkin memang sulit.
            "Maaf, Na. Maaf karena aku terlalu bodoh untuk melepas kamu. Aku berharap kita bisa mulai dari awal lagi, tapi aku tahu kamu udah sakit banget."
            Again. Setiap kali dia berbicara aku selalu berhenti. Setiap kali dia mengucapkan sesuatu, aku tak pernah bisa pergi. Seharusnya dia melakukan itu enam tahun lalu sebelum aku pergi. Kalau dia melakukan itu, aku pasti tidak akan pergi, seperti sekarang ini. Dan sekarang ini aku sudah memutuskan bahwa aku tak akan lari lagi.
            "Kak.... aku.... aku selalu memimpikan cinta. Aku sadar itu sekarang. Dan saat mimpi itu sudah di depan mata, aku nggak mungkin ngelepasin mimpi itu kan?"
            Aku tersenyum padanya dan aku melihat dia juga tersenyum padaku.