Fanfiction ini diambil dari novel
Refrain dan
Melbourne: Rewind karya Winna Efendi.
Sudah enam tahun sejak aku meninggalkan Indonesia
untuk kuliah di Melbourne. Tak hanya meninggalkan Indonesia, aku juga
meninggalkan orang yang plaing kusayang di dunia ini. Kak Danny. Ya, ketika aku
tahu bahwa Nata menyukai Niki, aku sadar kalau aku tidak akan punya kesempatan
jika bersaing dengan Niki. Aku tahu Niki sendiri menyukai Nata, bahkan mungkin
sebelum dia sendiri menyadarinya. Perlahan aku mencoba menyerah pada rasa itu
dan mencari tambatan hati lain. Lalu ia muncul. Kak Danny muncul dan membantuku
untuk beralih dari Nata.
Selama beberapa waktu aku dan Kak Danny mulai
dekat. Deket banget, kalau kata Niki, seperti yang sering dia ucapkan dengan
nada meledek dan membuat pipiku langsung merah. Aku akui kami memang sangat dekat,
meskipun tidak sedekat Nata dan Niki. Sekalipun kami dekat, kami tak pernah
menjalin suatu hubungan. Status kami tak pernah lebih dari teman karena sebelum
kami melangkah maju, Kak Danny sudah mengakhirinya.
"Aku
punya perasaan sama kamu, Na, tapi aku nggak mau nantinya aku sakit lagi karena
kamu punya cita-cita. Lebih baik kejar mimpi kamu dulu," kata Kak Danny
waktu itu.
Aku
ingat semua yang Kak Danny ucapkan kata per kata. Aku ingat intonasinya, raut
wajahnya, bahkan kehangatan yang diberikan saat dia mengucapkannya sambil
menggenggam tanganku. Dan yang paling kuingat? Bagaimana dua kalimat itu
menghancurkanku. Bagaimana dua kalimat itu membuatku merasakan kembali rasanya
tidak diinginkan kehadirannya oleh orang yang kau sayangi setengah mati.
Sejak
saat itu kami tak pernah bertemu lagi. Sekalipun Kak Danny menawarkan untuk
tetap menjadi teman, aku menolaknya. Kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya
benar-benar menghantamku, meninggalkan sejumlah rasa sedih dan kecewa. Aneh
bagaimana jiwaku seakan-akan dihisap oleh Dementor dalam film Harry Potter
hanya dengan dua kalimat itu. Konyol, kan? Begitu juga dengan Kak Danny.
Menurutku dia konyol. Mengapa dia menyuruhku untuk memilih antara cinta dan
mimpi? Bukankah manusia berhak untuk mendapatkan keduanya? Aku benar-benar tak
mengerti saat itu.
Kepergianku
ke Melbourne merupakan keputusan terberat sekaligus keputusan terbaik yang
pernah kubuat. Aku merenungkan banyak hal di sana. Aku merenungkan alasan
mengapa Kak Danny melakukan itu semua. Bodohnya, aku baru sadar bahwa dia
melakukan itu karena dia tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya karena hal
yang sama. Harusnya aku ingat bahwa cinta pertama Kak Danny juga berakhir
karena mimpi. Tapi tetap saja masih ada keraguan dalam diriku. Keraguan bahwa
Kak Danny memang ingin aku pergi dari hidupnya.
Keraguan
dalam diriku membuahkan banyak pertanyaan. Haruskah aku kembali lagi nanti?
Kalaupun aku kembali, apakah perasaan Kak Danny terhadapku akan sama dengan
perasaanku terhadapnya? Atau akankah rasa cinta ini bertepuk sebelah tangan?
Haruskah aku tinggal di sini saja, meraih mimpiku?
Semua
pertanyaan itu kutanyakan jutaan kali pada diriku sendiri selama di Melbourne.
Untungnya ada sepupuku, Kak Laura, yang membantu menjawab semua itu. Aku
tinggal bersamanya di Melbourne dan dia sangat mengerti apa yang ku alami. Dia
pernah mengalami hal serupa denganku, yaitu persoalan cinta karena mimpi. Dulu
Kak Laura putus dengan pacarnya, Max karena Max harus pergi ke luar negeri
untuk mengejar mimpinya. Tapi akhirnya mereka kembali bersama setelah lima
tahun.
"Kadang
mimpi seseorang adalah menemukan cinta. Mungkin sebenarnya itu mimpi kamu, Na.
Dan kalau kamu memang memimpikan cinta, kejarlah."
Itulah
kata-kata Kak Laura yang paling membekas bagiku. Kata-kata itu yang membuatku
pulang. Kata-kata itu yang membuatku kembali ke Indonesia, mengejar mimpiku
yang ternyata selama ini ada di hati.
***
Enam tahun yang panjang membawaku ke sini, ke rumah
ini lagi. Rumah yang dulu sering aku datangi untuk belajar sekaligus bermain
bersama Niki dan Nata. Rumah yang tetap sering kudatangi setelah kepergian Nata
ke New York untuk sekadar bertemu dengan Kak Danny. Rumah yang menyimpan banyak
kenangan, mulai dari yang terbaik sampai yang terburuk.
Aku
terus berkata dalam hatiku bahwa aku sudah siap. Aku sudah siap mengejar
mimpiku. Tapi sesaat setelah aku memencet bel, nyaliku menciut. Tekadku tak
lagi bulat. Sekarang aku hanya berharap bahwa tidak ada orang di rumah, atau
setidaknya semoga Kak Danny tidak di rumah.
Sialnya,
harapanku tidak terkabul karena aku mendengar ada langkah kaki seseorang yang
sedang berlari menuju pintu. Aku langsung membalikkan badan, berharap siapapun
yang sedang menuju ke sini tidak mengenaliku. Tapi.....
"ANNA!!!"
teriak seseorang di belakangku.
Aku
masih ingat dengan suara itu. Pasti milik the one and only, Niki. Aku berbalik
dengan tawa kecil menghiasi wajahku.
"Niki! Nice to meet you
again," sapaku pada Niki.
Niki langsung berlari menghampiriku
dan memelukku.
"Anna! Aku kangen banget sama
kamu, Na! Enam tahun kamu di Melbourne dan enggak pernah pulang ke sini pas
liburan. Kamu keterlaluan, Na," sembur Niki padaku dengan nada sewot ciri
khasnya.
Sebelum aku bisa membalas ucapan
Niki, seseorang datang dari belakang Niki. Orang yang sempat singgah sebentar
di hatiku tapi digantikan dengan cepat oleh kakaknya. Ya, Nata. Dia sedang
melangkah menuju Niki dan aku.
"Hai, Na. Udah lama banget lo
enggak ke sini. Gue sama Niki kangen banget loh sama lo," kata Nata sambil
memelukku, bergantian dengan Niki.
"Masa sih kalian kangen sama
aku? Bukannya kalian terlalu sibuk pacaran?" candaku pada mereka berdua.
"Aaaah, Anna. Jangan bikin malu
dong," ujar Niki yang sekarang pipinya memerah sambil tersenyum malu-malu,
"masuk, yuk! Kamu harus cerita banyak sama kita."
Kami bertiga masuk ke rumah Nata.
Tapi beberapa detik kemudian langkahku terhenti karena aku mengingat sesuatu.
"Nik, Nat, tunggu deh. Kak.....
Kak Danny enggak ada di rumah, kan?"
Langkah Niki dan Nata juga terhenti.
Dalam beberapa detik hanya ada keheningan di antara kami sampai Nata buka
suara.
"Dia lagi pergi kok, Na. Tenang
aja, lagi."
Sebagian dari diriku merasa lega
karena aku tak akan bertemu dengannya. Tapi entah mengapa aku juga merasa
kecewa karena tidak bisa melepas rindu yang sudah kurasakan bertahun-tahun. I
miss him that much, you know.
***
"So, Na,
aku penasaran banget apa aja yang terjadi sama kamu selama enam tahun ini,
tapi.... the most important thing first. Sebenernya apa sih yang terjadi sama
kamu dan Kak Danny?"
Niki langsung menyemprotku dengan
topik yang super sensitif sesaat setelah kami berada di ruang tamu.
"Kalian itu pasangan yang cocok
banget, Na, dan aku stress berat waktu tahu kalian selesai..."
"Nik!" sela Nata.
"Aduh bentar dong, Nat. Gini,
Na. Sebenernya aku udah gatel banget pengen kepo tapi Nata selalu ngelarang
aku. Jadi aku udah nggak tahan lagi sekarang."
Jujur, aku tak tahu harus menjawab
apa.
"Nik... aku.... aku cuma tahu
kalau enam tahun lalu semuanya selesai. Kak Danny mau aku ngejar mimpi aku dan
itulah yang aku lakuin. Sekarang aku pulang karena....."
"Karena kamu masih sayang sama
dia," kata Nata, menyelesaikan kalimatku dengan tepat.
Aku hanya diam, tahu bahwa apa yang
dikatakan Nata benar. Kurasa Nata dan Niki juga mengerti yang kumaksud dengan
diam karena selanjutnya Niki memelukku lagi.
"Aaaah....Na, kenapa kamu nggak
pernah bilang? Harusnya kamu bilang dan biarin cupid satu ini menyelesaikan
segalanya bagimu."
"Nggak usah sok jadi cupid deh
Nik dan biarin Anna dan Kak Danny beresin masalah mereka sendiri," kata
Nata.
"Oke, oke. Sinis banget deh,
Nat."
"Always, Nik, always."
It's always funny to watch them
fight. Niki dan Nata, maksudku. Mereka pasangan paling manis yang pernah
kutemui. They complete each other. Dan yang terpenting adalah mereka bertahan
lama sebagai pasangan.
"Kalian lucu banget, ya. Nggak
pernah berubah," kataku.
"Kamu juga nggak berubah, Na,"
ujar seseorang di belakangku.
Kata-kata itu membuatku terpaku.
Bukan karena isinya, tapi karena diucapkan oleh seseorang yang benar-benar
kuingat suaranya. Suara itu.... suara itu sempat mengisi hari-hariku enam tahun
lalu.
Aku segera menengok ke belakang dan
menemukannya. Kak Danny. Rasanya hatiku seperti disetrum listrik saat
melihatnya. Kemeja Polo yang pas di badan dan memperlihatkan ototnya. Celana
jeans hitam yang aku tahu sering dia pakai. Dia persis seperti orang yang
kusayangi setengah mati enam tahun lalu. He hasn't changed a bit.
"Kayaknya lebih baik kalian
ngobrol berdua aja deh. Ayo, Nik."
Nata menarik tangan Niki yang aku
yakin sebenarnya tidak mau pergi dari situ. Aku juga berharap mereka tidak
meninggalkan aku dengan Kak Danny. Aku belum siap.
Tanpa mengatakan apa-apa aku segera
beranjak dari sofa yang tadinya kududuki. Aku hanya ingin pergi dari situ. Aku
belum siap menghadapi semuanya. Sebelumnya kupikir aku siap tapi nyatanya aku
belum siap.
"I miss you, Na."
Astaga. Seharusnya dia tidak
mengatakan itu.
"Aku... aku nggak nyangka kalau
kamu bakal pergi selama itu."
"Aku juga nggak nyangka kalau
kakak bakal nyuruh aku ngejar mimpi aku enam tahun lalu. Aku juga nggak nyangka
kalau aku akan kembali ke sini setelah tahu bahwa kakak udah nggak mau
berhubungan sama aku. Aku juga nggak nyangka kalau aku masih sayang sama kakak
setelah enam tahun berlalu. Aku juga nggak nyangka kalau bakal sesakit ini
waktu ngeliat kakak lagi."
Aku benar-benar kehabisan nafas saat
itu. Dadaku rasanya sesak, dan air mataku mengalir begitu saja. Aku kehabisan
energi dan langsung terduduk lemas setelah mengeluarkan kata-kata yang selama
ini kupendam.
"Sorry, Na. Aku nggak pernah
bermaksud buat nyuruh kamu pergi. Aku..... Gosh! I love you, Na. Dari dulu
sampai sekarang aku selalu sayang sama kamu. Aku tahu aku salah dengan nyuruh
kamu buat milih antara mimpi dengan cinta, tapi...."
"Tapi mimpi aku itu cinta, Kak.
Hal yang aku impikan dari dulu adalah cinta. Sayangnya Kakak nggak pernah
menyadari itu."
Kak Danny hanya diam. Aku yakin dia
sadar bahwa apa yang kukatakan itu benar.
Aku berdiri dan melangkah keluar
dari rumah. It's all over now. Mungkin mimpi ini tidak realistis. Mungkin mimpi
ini terlalu tinggi untuk dicapai. Memimpikan cinta mungkin memang sulit.
"Maaf, Na. Maaf karena aku terlalu
bodoh untuk melepas kamu. Aku berharap kita bisa mulai dari awal lagi, tapi aku
tahu kamu udah sakit banget."
Again. Setiap kali dia berbicara aku
selalu berhenti. Setiap kali dia mengucapkan sesuatu, aku tak pernah bisa
pergi. Seharusnya dia melakukan itu enam tahun lalu sebelum aku pergi. Kalau
dia melakukan itu, aku pasti tidak akan pergi, seperti sekarang ini. Dan sekarang
ini aku sudah memutuskan bahwa aku tak akan lari lagi.
"Kak.... aku.... aku selalu
memimpikan cinta. Aku sadar itu sekarang. Dan saat mimpi itu sudah di depan
mata, aku nggak mungkin ngelepasin mimpi itu kan?"
Aku tersenyum padanya dan aku melihat
dia juga tersenyum padaku.