Rabu, 02 Juli 2014

[PBR] Casablanca: Forget Me Not oleh Dahlian


Judul Buku : Casablanca: Forget Me Not
Penulis : Dahlian
Penerbit : GagasMedia
ISBN : 978-979-780-712-2
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : viii + 336 halaman
 
 
Pembaca tersayang,

Ambil petamu dan bentangkanlah. Dahlian, penulis "Promises Promises" dan "Andai Kau Tahu", akan mengajak kita berkunjung ke Casablanca, salah satu kota eksotis di Maroko.

Temui Vanda di lobi sebuah hotel. Dia bimbang dengan rencana pernikahannya dan ingin menenangkan diri, jauh dari Jakarta. Pertemuan berkali-kali dengan seorang pria Indonesia bernama Laz mengganggu pelariannya. Namun, kegigihan pendekatan Laz membuat Vanda luluh, dan memberinya kesempatan untuk sekadar berteman.

Di tengah-tengah itu, sang tunangan datang dan mendesaknya pulang. Keadaan semakin genting ketika Laz mendadak muncul di antara mereka berdua. Vanda harus segera mengambil keputusan. Di manakah hatinya tak lagi bimbang; pulang ataukah tetap berada di kota yang diam-diam memberinya hangat dalam bincang akrab?

Setiap tempat punya cerita. Dihembus aroma angin Mediterania, ada rahasia yang segera terkuak.


Enjoy the journey,

Editor
***

Tanggal 30 Mei yang lalu aku menyempatkan diri datang ke Jakarta Book Fair (JBF). Dari awal liat di timeline Twitter banyak yang berkicau tentang JBF ini, aku jadi kepengen datang juga ke sana, apalagi di sana surga para manusia yang hobi baca. Jadilah siang hari itu aku menginjakkan kaki di Istora Senayan, dan langsung liat peta stand-stand di JBF. Aku langsung cari nama GagasMedia dan langsung ku samperin. Emang, tujuan utama aku itu ke stand Gagas soalnya aku paling banyak baca buku terbitan Gagas.

Setelah sampai di stand Gagas aku langsung beli dua novel baru - pengennya lebih sih, tapi sama yang mulia orang tua nggak dibolehin hiks :(( . Nah salah satu novel yang aku beli itu novel ini, Casablanca-nya Dahlian. Awalnya aku nggak tahu sih ini tentang cerita apa, bahkan aku nggak baca sinopsisnya sebelum beli. Aku beli novel ini hanya karena ini salah satu novel STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang lagi aku koleksi. Ini buku ke-7 dari koleksi STPC-ku.

Dari cover, buku ini oke banget. Meskipun semua cover STPC terbitan Gagas konsepnya begitu semua, tapi tiap buku mewakili tempatnya masing-masing. Casablanca juga, dan itu yang bikin aku nggak bosen mandangin covernya. Setiap Tempat Punya Ciri/Cover-nya sendiri kan? *oke maksa*

Aku juga suka postcard yang ada dibalik covernya. Di setiap novel STPC terbitan Gagas memang disertakan postcard dengan gambar pemandangan/objek yang ada di setting tempat masing-masing.

Dari segi cerita..... well, jujur saja aku belum pernah membaca novel-novel karya Dahlian. Ini novel pertamanya yang aku baca. My first impression is........ yah, ada plus minusnya sih. Dari segi penggambaran karakter, aku suka banget karena aku bisa bener-bener ngeliat sifat dan pribadinya setiap tokoh. Misalnya Vanda yang mudah 'terbawa arus', mudah dipengaruhi orang lain namun di sisi lain selalu memikirkan orang lain ketika mengambil keputusan. Laz yang membenci wanita karena masa lalunya, tapi juga protektif.

Satu hal lain yang aku suka dari novel ini, ada moral value-nya. Misalnya soal revenge, kalau kita dendam sama orang, itu nggak cuma merugikan orang itu tapi juga merugikan kita. Ada lagi soal cinta, kalau kita sudah mencintai dan dicintai, jangan lepaskan dia *cie* dan masih banyak lagi.

Di balik hal-hal yang aku suka itu, ada juga minusnya. Menurutku jalan ceritanya terlalu.... gimana ya. Terlalu banyak kebetulan buat aku. Endingnya juga aku merasa kurang sreg sama endingnya

Jadi, kalau disuruh kasih bintang buat novel ini, aku kasih 3,5 dari 5 bintang. Bagi aku jalan cerita punya andil penting dalam sebuah novel jadi aku kurang puas. But I'm looking forward buat baca karya-karya Dahlian yang lain karena banyak yang bilang karya-karyanya itu bagus :)



Lots of love,
Pheobe A.

Sabtu, 21 Juni 2014

[PBR] DJ & JD oleh Primadonna Angela dan Syafrina Siregar

 
Judul Buku : DJ & JD
Penulis : Primadonna Angela dan Syafrina Siregar
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-3231-8
Tahun Terbit : 2007
Jumlah Halaman : 240 halaman

DJ & JD---dua cewek kembar dengan kepribadian bertolak belakang. DJ tangguh dan cenderung serampangan dalam berpakaian, sementara JD sensitif dan tukang dandan. Mereka memutuskan untuk hidup mandiri di Singapura. DJ sibuk sebagai sales vacuum cleaner, sementara JD mengisi waktu dengan mengelola bakery.

Rutinitas kehidupan mereka berdua mendadak kacau saat cinta mulai menghampiri mereka. Belum lagi pinjaman untuk mendirikan bakery yang mendadak ditagih. Kalau tidak dibayar dalam waktu dekat, JD terancam dinikahi dengan paksa dengan seseorang yang dia benci setengah mati! Masalah keluarga pun mengikuti mereka, membuat DJ dan JD harus pandai-pandai menata hati.

Saat JD sadar cowok yang dicintainya ternyata menaruh hati pada DJ, bagaimana dia menyikapinya? Haruskah dia menyerah dan memutuskan untuk menikah dengan cowok lain, agar mereka bisa menghadapi akhir yang sempurna?
***

Sudah lama saya membaca buku ini, sekitar 4 tahun lalu ketika buku ini sudah masuk cetakan kelima. DJ & JD, dari judulnya sudah terlihat bahwa isinya mengisahkan tentang dua tokoh, Desti Jennifer (DJ) dan Jocelyn Devita (JD). Kedua tokoh ini adalah kakak beradik yang kembar. Meskipun wajahnya yang sama - kembar identik - namun keduanya memiliki karakter yang bertolak belakang. DJ adalah tipe orang yang seenaknya saja, tomboi, dan tidak terlalu memedulikan penampilan. Di sisi lain, JD adalah "perempuan sejati" yang terlalu memedulikan kerapihan, penampilan, dan memimpikan pangeran tampan. Pada buku ini, diceritakan kehidupan kakak beradik tersebut yang mengalami masalah, mulai dari masalah utang hingga masalah percintaan mereka.

Dalam buku ini terdapat dua sudut pandang, yaitu sudut pandang DJ dan sudut pandang JD. Keduanya ditulis oleh orang yang berbeda. Sudut pandang DJ ditulis oleh Syafrina Siregar (Nana), sedangkan sudut pandang JD ditulis oleh Primadonna Angela (Donna). Saya bisa merasakan dengan jelas perbedaan sudut pandang keduanya, dari tutur kata tokoh dan cara bercerita tokoh. Bagi saya itu adalah poin plus dalam buku ini.

Saya cukup menyukai cover dari buku ini. Bagi saya cover yang dibuat oleh Yustisea ini sederhana, namun cukup bisa menggambarkan isi buku tersebut. Poin plus satu lagi bagi DJ & JD.

Dibalik poin-poin plus tersebut saya juga menemukan hal-hal yang kurang saya sukai dalam buku ini. Menurut saya terlalu banyak kejadian dalam satu bab, dikarenakan pembagian babnya berdasarkan hari. Terlalu banyak kejadian membuat kejadian-kejadian penting malah kurang dijabarkan dengan detail.

Sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa pembagian babnya berdasarkan hari, namun saya juga agak kurang menyukai pembagian babnya. Bagi saya pembagian berdasarkan hari itu boleh saja jika harinya berurutan. Namun dalam buku ini, banyak yang lompat-lompat, misalnya dari hari ketiga langsung hari ketujuh.

Saya juga merasa bahwa saat saya membaca, pada beberapa bagian terasa seperti membaca diary seorang DJ maupun diary seorang JD. Dalam buku juga saya temukan munculnya komentar-komentar dalam narasi tokoh yang saya rasa kurang penting.

Jika saya diminta memberikan rating bagi buku ini, saya akan memberikan 3 dari 5 bintang. Memang banyak hal yang kurang saya sukai dari buku ini, namun selebihnya, saya rasa buku ini adalah buku yang bagus. Ide ceritanya menarik dan saya belum pernah membaca buku seperti ini.

***

Pheobe's Note:

Aku sedang mengikuti lomba resensi yang diadakan Bookopedia.com (berlangsung sampai 30 Juni), jadi mungkin bahasanya sedikit kaku.

Kalau kalian ingin mengikuti lomba ini juga, klik di sini untuk info lebih lanjut.


Lots of love,
Pheobe A.


Minggu, 15 Juni 2014

Starting PBR

Pheobe is a bookworm.


Yes, I am a bookworm. At least I feel like it.


Since I (super) love to read, I think I should write reviews about books I've read. Well, I know I suck in writing but by doing a review, I hope I can improve my writing skill. I also hope that you guys will find this useful.


So, PBR (Pheobe's Book Review) has officially started.


Oh gosh, this is so silly :)



Lots of love,
Pheobe A.

Kamis, 12 Juni 2014

#tantanganmenulis INTERLUDE : Lirik Lagu untuk Hanna

Tadi sore aku pantengin TL twitterku, terus liat tweet yang diretweet sama akunnya kak Windry Ramadhina dan GagasMedia. Tweetnya tentang giveaway buku Interlude karya kak Windry yang aku pengen banget tapi belum kesampaian beli karena dompet tipis *bulan ini boros*.

Cover Interlude, taken from GOOGLE
 So, here I am, posting a song that I wrote for the giveaway. Aku bahkan udah mikirin nanti nadanya gimana, meskipun mungkin hancur *tears*. Well, aku emang enggak jago nulis sekalipun aku hobi, tapi semoga kalian suka lagu yang aku buat ini.

Oh iya, sebelumnya, bagi yang mau ikutan juga, bisa buka TL-nya kak @gitaromadhona ( https://twitter.com/gitaromadhona )

So this is it, enjoy!

Telling You

written by Pheobe A.


Happy
It's never been in your dictionary
And free
You said you don't ever know
What freedom is

Smile
You said you don't have a reason to do it
And laugh
You don't get how people do that
So easily

(Bridge)
I know nothing I said will change the way you think
But the wise said you'll never know till you try
So I'm trying,
I'm trying to tell you that I...

(Chorus)
I'm in something
Something you never believe in
Yes I'm in love
I'm in love with you
But baby don't be afraid
Don't be terrified
Don't be scared of this confession of mine
Let's just take a step at a time
Together you and I

Pain
I know you've been through a lot of it
And hurt
That's all the past had done
To you

Alone
That's how you face the world all this time
And dark
You see the world as a dark cold place
To live

(Bridge)
I know nothing I said will change the way you think
But the wise said you'll never know till you try
So I'm trying,
I'm trying to tell you that I...

(Chorus)
I'm in something
Something you never believe in
Yes I'm in love
I'm in love with you
But baby don't be afraid
Don't be terrified
Don't be scared of this confession of mine
Let's just take a step at a time
Together you and I

Baby I don't know
If this thing I do
Has changed your mind or not
But I'll keep on trying
To make you believe in love
To make you truly see that I...

(Chorus)
I'm in something
Something you never believe in
Yes I'm in love
I'm in love with you
But baby don't be afraid
Don't be terrified
Don't be scared of this confession of mine
Let's just take a step at a time
Together you and I
Together you and I
Together you and I

Gimana liriknya? If you don't mind, please leave a comment and let me know what you think :)



Lots of love,
Pheobe A.

Jumat, 17 Januari 2014

Memimpikan Cinta

Fanfiction ini diambil dari novel Refrain dan Melbourne: Rewind karya Winna Efendi.




Sudah enam tahun sejak aku meninggalkan Indonesia untuk kuliah di Melbourne. Tak hanya meninggalkan Indonesia, aku juga meninggalkan orang yang plaing kusayang di dunia ini. Kak Danny. Ya, ketika aku tahu bahwa Nata menyukai Niki, aku sadar kalau aku tidak akan punya kesempatan jika bersaing dengan Niki. Aku tahu Niki sendiri menyukai Nata, bahkan mungkin sebelum dia sendiri menyadarinya. Perlahan aku mencoba menyerah pada rasa itu dan mencari tambatan hati lain. Lalu ia muncul. Kak Danny muncul dan membantuku untuk beralih dari Nata.
             Selama beberapa waktu aku dan Kak Danny mulai dekat. Deket banget, kalau kata Niki, seperti yang sering dia ucapkan dengan nada meledek dan membuat pipiku langsung merah. Aku akui kami memang sangat dekat, meskipun tidak sedekat Nata dan Niki. Sekalipun kami dekat, kami tak pernah menjalin suatu hubungan. Status kami tak pernah lebih dari teman karena sebelum kami melangkah maju, Kak Danny sudah mengakhirinya.
            "Aku punya perasaan sama kamu, Na, tapi aku nggak mau nantinya aku sakit lagi karena kamu punya cita-cita. Lebih baik kejar mimpi kamu dulu," kata Kak Danny waktu itu.
            Aku ingat semua yang Kak Danny ucapkan kata per kata. Aku ingat intonasinya, raut wajahnya, bahkan kehangatan yang diberikan saat dia mengucapkannya sambil menggenggam tanganku. Dan yang paling kuingat? Bagaimana dua kalimat itu menghancurkanku. Bagaimana dua kalimat itu membuatku merasakan kembali rasanya tidak diinginkan kehadirannya oleh orang yang kau sayangi setengah mati.
            Sejak saat itu kami tak pernah bertemu lagi. Sekalipun Kak Danny menawarkan untuk tetap menjadi teman, aku menolaknya. Kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya benar-benar menghantamku, meninggalkan sejumlah rasa sedih dan kecewa. Aneh bagaimana jiwaku seakan-akan dihisap oleh Dementor dalam film Harry Potter hanya dengan dua kalimat itu. Konyol, kan? Begitu juga dengan Kak Danny. Menurutku dia konyol. Mengapa dia menyuruhku untuk memilih antara cinta dan mimpi? Bukankah manusia berhak untuk mendapatkan keduanya? Aku benar-benar tak mengerti saat itu.
            Kepergianku ke Melbourne merupakan keputusan terberat sekaligus keputusan terbaik yang pernah kubuat. Aku merenungkan banyak hal di sana. Aku merenungkan alasan mengapa Kak Danny melakukan itu semua. Bodohnya, aku baru sadar bahwa dia melakukan itu karena dia tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya karena hal yang sama. Harusnya aku ingat bahwa cinta pertama Kak Danny juga berakhir karena mimpi. Tapi tetap saja masih ada keraguan dalam diriku. Keraguan bahwa Kak Danny memang ingin aku pergi dari hidupnya.
            Keraguan dalam diriku membuahkan banyak pertanyaan. Haruskah aku kembali lagi nanti? Kalaupun aku kembali, apakah perasaan Kak Danny terhadapku akan sama dengan perasaanku terhadapnya? Atau akankah rasa cinta ini bertepuk sebelah tangan? Haruskah aku tinggal di sini saja, meraih mimpiku?
            Semua pertanyaan itu kutanyakan jutaan kali pada diriku sendiri selama di Melbourne. Untungnya ada sepupuku, Kak Laura, yang membantu menjawab semua itu. Aku tinggal bersamanya di Melbourne dan dia sangat mengerti apa yang ku alami. Dia pernah mengalami hal serupa denganku, yaitu persoalan cinta karena mimpi. Dulu Kak Laura putus dengan pacarnya, Max karena Max harus pergi ke luar negeri untuk mengejar mimpinya. Tapi akhirnya mereka kembali bersama setelah lima tahun.
            "Kadang mimpi seseorang adalah menemukan cinta. Mungkin sebenarnya itu mimpi kamu, Na. Dan kalau kamu memang memimpikan cinta, kejarlah."
            Itulah kata-kata Kak Laura yang paling membekas bagiku. Kata-kata itu yang membuatku pulang. Kata-kata itu yang membuatku kembali ke Indonesia, mengejar mimpiku yang ternyata selama ini ada di hati.

***

Enam tahun yang panjang membawaku ke sini, ke rumah ini lagi. Rumah yang dulu sering aku datangi untuk belajar sekaligus bermain bersama Niki dan Nata. Rumah yang tetap sering kudatangi setelah kepergian Nata ke New York untuk sekadar bertemu dengan Kak Danny. Rumah yang menyimpan banyak kenangan, mulai dari yang terbaik sampai yang terburuk.
            Aku terus berkata dalam hatiku bahwa aku sudah siap. Aku sudah siap mengejar mimpiku. Tapi sesaat setelah aku memencet bel, nyaliku menciut. Tekadku tak lagi bulat. Sekarang aku hanya berharap bahwa tidak ada orang di rumah, atau setidaknya semoga Kak Danny tidak di rumah.
            Sialnya, harapanku tidak terkabul karena aku mendengar ada langkah kaki seseorang yang sedang berlari menuju pintu. Aku langsung membalikkan badan, berharap siapapun yang sedang menuju ke sini tidak mengenaliku. Tapi.....
            "ANNA!!!" teriak seseorang di belakangku.
            Aku masih ingat dengan suara itu. Pasti milik the one and only, Niki. Aku berbalik dengan tawa kecil menghiasi wajahku.
            "Niki! Nice to meet you again," sapaku pada Niki.
            Niki langsung berlari menghampiriku dan memelukku.
            "Anna! Aku kangen banget sama kamu, Na! Enam tahun kamu di Melbourne dan enggak pernah pulang ke sini pas liburan. Kamu keterlaluan, Na," sembur Niki padaku dengan nada sewot ciri khasnya.
            Sebelum aku bisa membalas ucapan Niki, seseorang datang dari belakang Niki. Orang yang sempat singgah sebentar di hatiku tapi digantikan dengan cepat oleh kakaknya. Ya, Nata. Dia sedang melangkah menuju Niki dan aku.
            "Hai, Na. Udah lama banget lo enggak ke sini. Gue sama Niki kangen banget loh sama lo," kata Nata sambil memelukku, bergantian dengan Niki.
            "Masa sih kalian kangen sama aku? Bukannya kalian terlalu sibuk pacaran?" candaku pada mereka berdua.
            "Aaaah, Anna. Jangan bikin malu dong," ujar Niki yang sekarang pipinya memerah sambil tersenyum malu-malu, "masuk, yuk! Kamu harus cerita banyak sama kita."
            Kami bertiga masuk ke rumah Nata. Tapi beberapa detik kemudian langkahku terhenti karena aku mengingat sesuatu.
            "Nik, Nat, tunggu deh. Kak..... Kak Danny enggak ada di rumah, kan?"
            Langkah Niki dan Nata juga terhenti. Dalam beberapa detik hanya ada keheningan di antara kami sampai Nata buka suara.
            "Dia lagi pergi kok, Na. Tenang aja, lagi."
            Sebagian dari diriku merasa lega karena aku tak akan bertemu dengannya. Tapi entah mengapa aku juga merasa kecewa karena tidak bisa melepas rindu yang sudah kurasakan bertahun-tahun. I miss him that much, you know.

***

"So, Na, aku penasaran banget apa aja yang terjadi sama kamu selama enam tahun ini, tapi.... the most important thing first. Sebenernya apa sih yang terjadi sama kamu dan Kak Danny?"
            Niki langsung menyemprotku dengan topik yang super sensitif sesaat setelah kami berada di ruang tamu.
            "Kalian itu pasangan yang cocok banget, Na, dan aku stress berat waktu tahu kalian selesai..."
            "Nik!" sela Nata.
            "Aduh bentar dong, Nat. Gini, Na. Sebenernya aku udah gatel banget pengen kepo tapi Nata selalu ngelarang aku. Jadi aku udah nggak tahan lagi sekarang."
            Jujur, aku tak tahu harus menjawab apa.
            "Nik... aku.... aku cuma tahu kalau enam tahun lalu semuanya selesai. Kak Danny mau aku ngejar mimpi aku dan itulah yang aku lakuin. Sekarang aku pulang karena....."
            "Karena kamu masih sayang sama dia," kata Nata, menyelesaikan kalimatku dengan tepat.
            Aku hanya diam, tahu bahwa apa yang dikatakan Nata benar. Kurasa Nata dan Niki juga mengerti yang kumaksud dengan diam karena selanjutnya Niki memelukku lagi.
            "Aaaah....Na, kenapa kamu nggak pernah bilang? Harusnya kamu bilang dan biarin cupid satu ini menyelesaikan segalanya bagimu."
            "Nggak usah sok jadi cupid deh Nik dan biarin Anna dan Kak Danny beresin masalah mereka sendiri," kata Nata.
            "Oke, oke. Sinis banget deh, Nat."
            "Always, Nik, always."
            It's always funny to watch them fight. Niki dan Nata, maksudku. Mereka pasangan paling manis yang pernah kutemui. They complete each other. Dan yang terpenting adalah mereka bertahan lama sebagai pasangan.
            "Kalian lucu banget, ya. Nggak pernah berubah," kataku.
            "Kamu juga nggak berubah, Na," ujar seseorang di belakangku.
            Kata-kata itu membuatku terpaku. Bukan karena isinya, tapi karena diucapkan oleh seseorang yang benar-benar kuingat suaranya. Suara itu.... suara itu sempat mengisi hari-hariku enam tahun lalu.
            Aku segera menengok ke belakang dan menemukannya. Kak Danny. Rasanya hatiku seperti disetrum listrik saat melihatnya. Kemeja Polo yang pas di badan dan memperlihatkan ototnya. Celana jeans hitam yang aku tahu sering dia pakai. Dia persis seperti orang yang kusayangi setengah mati enam tahun lalu. He hasn't changed a bit.
            "Kayaknya lebih baik kalian ngobrol berdua aja deh. Ayo, Nik."
            Nata menarik tangan Niki yang aku yakin sebenarnya tidak mau pergi dari situ. Aku juga berharap mereka tidak meninggalkan aku dengan Kak Danny. Aku belum siap.
            Tanpa mengatakan apa-apa aku segera beranjak dari sofa yang tadinya kududuki. Aku hanya ingin pergi dari situ. Aku belum siap menghadapi semuanya. Sebelumnya kupikir aku siap tapi nyatanya aku belum siap.
            "I miss you, Na."
            Astaga. Seharusnya dia tidak mengatakan itu.
            "Aku... aku nggak nyangka kalau kamu bakal pergi selama itu."
            "Aku juga nggak nyangka kalau kakak bakal nyuruh aku ngejar mimpi aku enam tahun lalu. Aku juga nggak nyangka kalau aku akan kembali ke sini setelah tahu bahwa kakak udah nggak mau berhubungan sama aku. Aku juga nggak nyangka kalau aku masih sayang sama kakak setelah enam tahun berlalu. Aku juga nggak nyangka kalau bakal sesakit ini waktu ngeliat kakak lagi."
            Aku benar-benar kehabisan nafas saat itu. Dadaku rasanya sesak, dan air mataku mengalir begitu saja. Aku kehabisan energi dan langsung terduduk lemas setelah mengeluarkan kata-kata yang selama ini kupendam.
            "Sorry, Na. Aku nggak pernah bermaksud buat nyuruh kamu pergi. Aku..... Gosh! I love you, Na. Dari dulu sampai sekarang aku selalu sayang sama kamu. Aku tahu aku salah dengan nyuruh kamu buat milih antara mimpi dengan cinta, tapi...."
            "Tapi mimpi aku itu cinta, Kak. Hal yang aku impikan dari dulu adalah cinta. Sayangnya Kakak nggak pernah menyadari itu."
            Kak Danny hanya diam. Aku yakin dia sadar bahwa apa yang kukatakan itu benar.
            Aku berdiri dan melangkah keluar dari rumah. It's all over now. Mungkin mimpi ini tidak realistis. Mungkin mimpi ini terlalu tinggi untuk dicapai. Memimpikan cinta mungkin memang sulit.
            "Maaf, Na. Maaf karena aku terlalu bodoh untuk melepas kamu. Aku berharap kita bisa mulai dari awal lagi, tapi aku tahu kamu udah sakit banget."
            Again. Setiap kali dia berbicara aku selalu berhenti. Setiap kali dia mengucapkan sesuatu, aku tak pernah bisa pergi. Seharusnya dia melakukan itu enam tahun lalu sebelum aku pergi. Kalau dia melakukan itu, aku pasti tidak akan pergi, seperti sekarang ini. Dan sekarang ini aku sudah memutuskan bahwa aku tak akan lari lagi.
            "Kak.... aku.... aku selalu memimpikan cinta. Aku sadar itu sekarang. Dan saat mimpi itu sudah di depan mata, aku nggak mungkin ngelepasin mimpi itu kan?"
            Aku tersenyum padanya dan aku melihat dia juga tersenyum padaku.


Senin, 30 Desember 2013

POND'S Review & Giveaway with Elle and Jess

There's one blog I love which is Elle and Jess 's blog. ( http://www.ellejess.com/ )

I've been reading their blog since, I don't know, like... two or three years ago and never got bored. I just love them, because they post about girls' stuff like beauty products, clothes and as a girl, their posts are really useful for me. They also look so pretty *smile*. By the way they own a shop, GOWIGASA, that sells clothes, accessories, shoes, etc. (check it out: http://gowigasa.com/ )

So, last November they posted about a product from POND'S. It's the new POND'S White Beauty Translucent Pinkish White. It's interesting because I also use that product (the facial foam and day cream) and I find it as a good product as well.

What I love about this product is the feeling after you use it. I wash my face with the facial foam after I wake up in the morning and before I go to bed. After I wash my face with POND'S facial foam, it really feels fresh, like I've completely awake after I wash my face. So yeah, it feels so good.

As for the day cream, I use it after I wash my face (after shower). I really like this day cream because it protects me from the sun (UV rays). And after I use the day cream regularly for a couple days, I can see the difference of your skin tone (before and after using it). My face became more radiant, smooth, and moist.

I really recommend this product *definitely*. Oh, and don't worry because this product fits for all skin types.

Back to Elle and Jess 's blog. They also posted about POND'S giveaway! I'm so happy because the winner will get a POND'S goodie bag, filled with its beauty and skin care products. I'm joining this giveaway and if you want to join as well, click here for more info: http://bit.ly/pondsgiveaway

#pondsgiveaway

Wish me luck! I hope I can be one of the winners :)


Lots of love,
Pheobe A

New Beginning

I've tried to do blogging (a couple times) before and always failed. In the end, I removed those blogs (well, not all, because I forgot the account's password).

I was thinking, how about making another blog? I mean, how about having a new beginning by making a new blog and see how it will turn out at the end? And I was like... okay, let's try. Besides, I really love blogging; I love to write about things, even though most of them are so not important and I often ran out of topics to write.

The point is.... I'm going to try blogging again. I will write about things I love, or just things that I found interesting to share.



Lots of love,
Pheobe A.